Untung dan rugi
Untung terjadi kalau harga jual lebih tinggi daripada harga beli, dan rugi terjadi kalau lebih rendah. Selisihnya dihitung dari kedua harga itu, bukan dari modal dan pemasukan secara terpisah.
Aritmetika sosial adalah persen yang dipakai sehari-hari: untung, rugi, diskon, dan pajak. Semuanya bekerja dengan satu aturan yang sama, yaitu persen selalu dihitung dari acuan yang jelas.
Diskon bertingkat dihitung berurutan, bukan dijumlahkan lebih dulu. Selisihnya kecil, tapi nyata, dan itu yang membuat urutan langkahnya penting.
Diskon bertingkat
Kalau persennya dijumlahkan
Untung terjadi kalau harga jual lebih tinggi daripada harga beli, dan rugi terjadi kalau lebih rendah. Selisihnya dihitung dari kedua harga itu, bukan dari modal dan pemasukan secara terpisah.
Persentase untung dan rugi selalu dibagi harga beli, bukan harga jual. Beli Rp200.000 lalu jual Rp250.000 memberi untung Rp50.000, dan persentasenya 50.000 ÷ 200.000 = 25%. Membagi dengan harga jual memberi 20%, dan itu jawaban untuk pertanyaan yang berbeda.
Diskon 20% lalu 10% tidak sama dengan diskon 30%. Diskon kedua dihitung dari harga yang sudah dipotong, bukan dari harga awal. Dari Rp100.000, diskon pertama menyisakan Rp80.000, lalu diskon kedua memotong Rp8.000, sehingga harga akhirnya Rp72.000. Diskon 30% langsung akan memberi Rp70.000, dan selisih Rp2.000 itu memang nyata.
Pajak menambah harga bayar, sedangkan diskon menguranginya. Kalau harga setelah diskon Rp72.000 dan pajaknya 10%, yang dibayar adalah Rp72.000 + Rp7.200 = Rp79.200. Urutannya juga penting: pajak dihitung setelah diskon, bukan sebelum.
Hasil negatif berarti rugi.
Acuannya selalu harga beli.
Diskon kedua dihitung dari harga baru.
Pajak ditambahkan di akhir.
Sebuah toko membeli barang Rp200.000 dan menjualnya dengan untung 25%. Pembeli mendapat diskon 20% dari harga jual, lalu membayar pajak 10% dari harga setelah diskon. Berapa yang dibayar pembeli?
JawabanRp220.000
Sebuah jaket berharga Rp400.000 mendapat diskon 25%. Berapa harga yang harus dibayar?